//Skip to content
Menjabarkan sisi kehidupan dari asal muasal.
Apa yang hak dan apa yang merubah?
Apa yang tergaris dan apa yang tidak merubah?
Lalu jika garis takdir adalah mutlak.
Dimana ke tidak mutlakannya?
Jika tidak ada sedikitpun ke tidak mutlakkannya.
Lalu apa fungsi dari kata 'rubah' ?
Yang tertulis adalah yang akan terjadi.
Seperti dimana masa akan tetap menua.
Bergulir hingga menusuk kasar , membabi buta potong kehidupan.
Lalu untuk apa rasa sakit jika bukan kematian?
Yang tercatat adalah yang pasti akan tergambar.
Seperti jatuh dan bangkit serentak.
Biarpun gunakan rencana yang tiada tanpa tara.
Lalu apa makna dari proses?
Yang dilakukan dan dilalui bukan berarti ke mutlakan.
Seperti berniat menuju neraka namun terbakar dilaut merah.
Serpihan hancur hingga sekecilnya.
Tidak bisa dibenarkan memang namun ini yang ada.
Dan pada akhirnya yang akhir adalah takdir itu sendiri.
Dan seharusnya, ke harusan adalah jalan itu sendiri.
Merubah ataupun tidak di rubah tetap takdir.
Yang hina tetap menetap semuanya.
Yang indah tetap menetap semuanya.
Yang tergaris tetap menetap semuanya.
Wahai, yang tak berwujud atau di wujudkan.
Wahai, cahaya yang tak terlihat bercahaya.
Wahai, yang tak bermakhluk dan tak berjenis.
Dimana kau simpan air, untuk pohon yang mengering?
Dimana nur berpusat, ketika gelap adalah pilihan?
Dimana jejak langkah kaki, yang mulai rapuh dan melumpuh?
Jika pohon tua mulai menjadi sandaran, dimana lagi sayup angin?
Jika gulita mulai nampak di penjuru, dimana lagi tetes embun?
Jika pusaran tanah mulai kering, dimana lagi tanah yang memerah?
Pusaran adalah kebenaran garis tersendiri.
Lingkaran adalah ujung kebenaran tersendiri.
Cahaya adalah kebenaran gelap tersendiri.
Wahai, yang tak pernah buta karena tak pasti bermata tapi melihat.
Wahai, yang tak pernah tuli karena tak pasti bertelinga tapi mendengar.
Wahai, yang tak pasti karena ke tidakpastian itu sendiri.
Dimana lagi, potongan-potongan skesta hidup kau rahasiakan?
Dimana lagi, puing-puing tempat berteduh kau simpan?
Dimana lagi, harus ku temukan jawaban atas pertanyaan "dimana lagi"?
Aku tak mengadu.
Aku tak mengeluh.
Aku tak berpaling.
Aku hanya bergumam kepada atau tentang " Paradoks yang tak ber-paradoks".
Apa yang indah dari suatu gambar atau lukisan?
Kombinasi, ya kombinasi. Penyatuan.
Apa yang indah dari warna atau sketsa?
Beda, ya beda. Perbedaan.
Apa yang indah dari kain atau rajutan?
Pelindung, ya pelindung. Melindungi.
Apa yang damai & indah dari "warna yang tergambar pada sebuah kain"?
Perbedaan yang menyatukan dan akan saling melindungi.
Apa yang indah dari cahaya atau nur?
Terang, menunjukan, kejelasan.
Apa yang indah dari bintang atau gemerlapnya?
Futuraristik, berkarakter.
Apa yang indah dari malam atau gelapnya?
Sepi, damai, menenangkan.
Apa yang agung dan indah dari " cahaya bintang yang kemerlap di tengah malam"?
Sesuatu karakter yang menunjukan jalan pada ketenangan dan damai.
Apa yang kudus dari manusia?
Logika,pemikiran.
Apa yang kudus dari alam?
Dediksasi, memberi.
Apa yang kudus dari Tuhan?
Sempurna, kesempurnaan.
Apa yang agung dan kudus dari "diciptakannya manusi, alam oleh Tuhan"?
Akh, tak perlu terjawab ataupun dijawab karena setiap jawaban dari jawaban itu sendiri ada di setiap frame gambar yang sudah berwarna. Lihatlah.
Pada akhirnya makhluk tidak lebih dari sebuah frame gambar yang berwarna.
Nak, hari ini matahari telah terbit dan kau masih terbaring lemas.
Nak, hari ini begitu cerah, coba gerakan sedikit tubuh mu.
Nak, hari ini embun mulai kering, coba kau intip melalui jendela.
Nak, hari ini orang lain mulai beraktifitas, coba kau ikuti.
Nak, coba kau lihat jam dingding yang bergerak pelan tapi pasti.
Nak, coba kau hitung sudah berapa lama kau berbaring.
Nak, coba kau teliti selimut mu sudah mulai lusuh.
Nak, coba, cobalah untuk mencoba.
Nak, matahari sudah menyingsing dan kemilau dan kau tetap saja diam.
Nak, hari ini bukan lagi sudah cerah namun sudah mulai menyengat.
Nak, embun sudah tak nampak bahkan bau segarnya pun sudah hilang.
Nak, kapan kau mau mencoba?
Nak, lihat debu disekitar kasur mu.
Nak, rasakan sendimu sudah meminta di gerakan.
Nak, aliran darah mu butuh penyegaran.
Nak, kau tak mau sedikitpun mencoba?
Nak, berapa lama lagi kau terbujur diam?
Nak, berapa lama lagi kau biarkan jam dingding berputar?
Nak, berapa lama lagi kau biarkan seluruh anggota tubuh mu mati suri?
Nak, sedikit saja mencoba, sekali saja.
Nak, kau hanya menungu mati?
Nak, kau hanya habiskan waktu yang tersisa?
Nak, kau masih hidup kah?
Nak, tak apa, kau tak mencoba namun bergeraklah.
Nak,bantal mu sudah lusuh dan basah.
Di waktu ini saya sedang di dunia pararel.
Saya sedang kagum dengan dunia ini,dunia yang tak terbatas.
Saya agak sedikit udik/kampungan di dunia baru ini.
Saya bingung dengan semua yang saya lihat,sangat bingung.
Bingung ketika melihat dewa Zeus marah kepada beberapa rasi bintang karena tak menurunkan hujan hari ini. Di dunia saya tidak pernah terlihat dewa zeus semarah ini.
Saya mulai ingin bertanya kepada makhluk2 lain di dunia pararel ini.
Tapi saya urungkan,dari mimik muka mereka,mereka juga nampaknya kebingungan.
Saya membaca beberapa tulisan,seperti sandi di tembok kaca tapi saya tak paham.
A+B+C=Z
Z-X-Y=A
1=3-2+5=10
Ini apa? sandi apa yang sedang mereka tulis? tutorial mana yang harus saya padukan?
Dari pertama saya di dunia pararel ini,ada suara yang saya dengar.
Suara seperti teriakan tapi bernada,seperti not-not irama musik Jazz,namun tidak ada lirik.
Entahlah mungkin itu,dendang pasutri-nya dewa yang sedang menghibur.
Oh iya,disini juga ada beberapa photo yang tak berbingkai,hanya menggantung saja.
Tidak aneh,karna memang disini tidak ada grafitasi.
Photo beberapa wajah yang samar,tapi rasanya,saya mengenalnya,entah siapa dan dimana.
Dejavu kah? tapi dejavu tidak sedetail ini.
Lagi-lagi saya merasa udik. Ah,bias lebih tepatnya.
Konon yang saya dengar,didunia ini ada beberapa raksasa yang punya sifat berbeda-beda.
Seperti raksasa dengan sifat murung,raksasa bersifat egois,bersifat mengeluh bahkan ada yang bersifat narsis.
Raksasa ini ditemani oleh beberapa kurcaci,yang fungsinya kurcaci ini adalah untuk menenangkan sifat masing-masing raksasa tadi. Jadi kurcaci ini memiliki sifat kebalikan dari raksasa yang ia temani. Semacam timbal balik atau sebab akibat,mungkin.
Ah,dunia pararel ini memang penuh teka-teki,kadang kita menemui dewa Zeus,kadang pula akan menemuai dewa-dewa Yunani kuno lain atau kalau lagi mujur bisa menemui sekelompok dari gareng,petruk atau semar. Saya hanya melihat dewa Zeus,pertama tadi.
Kali ini,saya mendekati dewa Amor yang sedang mengaduk-aduk semacam tinta berwarna.
Ada beberapa makhluk mengantri dibawah tempat duduknya,saya ikut mengantri,karna penasaran saja dengan tingkah makhluk lain.
Makhluk-makhluk ini akan pergi setelah badanya di lumuri oleh tinta yang di aduk-aduk tadi,hem,semakin membuat penasaran.
Tiba gilaran saya,saya mendekat...
Dewa Amor,nampak muka bertanya-tanya...
Dia tidak melumuri saya dengan satu warna-pun dari tinta itu...
Ia hanya berbisik lirih...
"Raksasa bersifat apa yang kau temui?"
Hah,saya harus menemui raksasa-raksasa itu dulu?
Jadi raksasa-raksasa itu benar adanya?
Hah,permainan macam apa ini?
Dunia macam apa ini?
Kemudian saya terpejam dan dilempar secara paksa,entah kemana.