Wednesday, 12 December 2012
Tuesday, 4 December 2012
Teruntuk Cholil Mahmud
Berjalan terus berjalan
hingga sampai ke bulan
bergerak terus bergerak
ikut awan berarak
dua langkah kecil berjalan.
Petikan gitar Cholil M. begitu merdu dilagu ini,mampu temani rintik hujan di bulan Desember,hujan dibulan desember memang selalu indah,begitu 'sabda'-nya.
akh,tapi saya bukan ingin membahas 'karya Efek Rumah Kaca' itu,kali ini saya ingin bermelankolis di tengah bisingnya petir.
Lirik diatas adalah lagu dari Indie Art Wedding,begitu Cholil M dan istrinya(Irma Hudayana) menamainya.Entah apa maksud dari makna nama itu,menurut yang saya baca dari hasil browsing mereka memang menghadiahkan Album ini,pas hari pernikahan mereka,souvenir yang sangat tak lazim dan cerdas bukan.
Setelah mendengarkan 4 lagu di album ini(Hidup itu pendek seni itu panjang),saya cuma geleng-geleng kepala dan tersenyum,sebuah karya yang indah,tentang cinta realistis yang benar-benar gokil.
Dan lagu 'Dua langkah kecil' ini yang benar smart dan saya suka,entah karna sebab apa,thema cinta yang unik atau apapun,saya benar-benar suka.
Lagu “Dua Langkah Kecil”. Dari lirik yang penuh metafor, terkesan bahwa lagu ini adalah penanda tahap baru dalam kehidupan percintaan mereka. Seakan-akan mereka adalah sepasang manusia yang sedang jatuh cinta lalu berkomitmen untuk menyeriusi hubungan mereka, dengan menikah. Lirik “Dua langkah kecil berjalan bersama menapak/ Dua langkah kecil bertemu/ Dua langkah kecil menyusuri waktu sampailah di pasar/ Bertemu handai taulan/ Berpegangan tangan, lalu berpelukan/”, adalah bagian yang menyebabkan kesan demikian menjadi kuat di mata saya.
Sudahlah,saya sekarang ingin 'mengalir' bersama lirik-lirik ini...........
hingga sampai ke bulan
bergerak terus bergerak
ikut awan berarak
dua langkah kecil berjalan.
Petikan gitar Cholil M. begitu merdu dilagu ini,mampu temani rintik hujan di bulan Desember,hujan dibulan desember memang selalu indah,begitu 'sabda'-nya.
akh,tapi saya bukan ingin membahas 'karya Efek Rumah Kaca' itu,kali ini saya ingin bermelankolis di tengah bisingnya petir.
Lirik diatas adalah lagu dari Indie Art Wedding,begitu Cholil M dan istrinya(Irma Hudayana) menamainya.Entah apa maksud dari makna nama itu,menurut yang saya baca dari hasil browsing mereka memang menghadiahkan Album ini,pas hari pernikahan mereka,souvenir yang sangat tak lazim dan cerdas bukan.
Setelah mendengarkan 4 lagu di album ini(Hidup itu pendek seni itu panjang),saya cuma geleng-geleng kepala dan tersenyum,sebuah karya yang indah,tentang cinta realistis yang benar-benar gokil.
Dan lagu 'Dua langkah kecil' ini yang benar smart dan saya suka,entah karna sebab apa,thema cinta yang unik atau apapun,saya benar-benar suka.
Lagu “Dua Langkah Kecil”. Dari lirik yang penuh metafor, terkesan bahwa lagu ini adalah penanda tahap baru dalam kehidupan percintaan mereka. Seakan-akan mereka adalah sepasang manusia yang sedang jatuh cinta lalu berkomitmen untuk menyeriusi hubungan mereka, dengan menikah. Lirik “Dua langkah kecil berjalan bersama menapak/ Dua langkah kecil bertemu/ Dua langkah kecil menyusuri waktu sampailah di pasar/ Bertemu handai taulan/ Berpegangan tangan, lalu berpelukan/”, adalah bagian yang menyebabkan kesan demikian menjadi kuat di mata saya.
Sudahlah,saya sekarang ingin 'mengalir' bersama lirik-lirik ini...........
Sunday, 21 October 2012
Negeri Para Apatis
Gali lubang
Tunggu lubang
Tutup lubang
Gali lubangTunggu lubang
Tutup lubang
Tunggu lubang
Tunggu lagi
Tutup lubang
Gali lubang
Tutup lubang
Gali lagi
Tutup … Eh
Tunggu lubang
Tutup?
Tunggu dulu
Tutup?
Sabar!!!
Kapan?
Tunggu akhir anggaran
Komplain!!!
….Maaf
Somasi!!!
….Ah, gak peduli…
Lubang politik
Lubang sosial
Lubang hukum
Kamu?
… gak peduli
Dia?
… gak peduli
Mereka?
… gak peduli
Aku?
Haruskah aku sendiri yang peduli?
Sunday, 14 October 2012
Gairah,peluru dan iblis
Cakrawala muda,
matari membentang caya! (teriakmu siang ini)
Apalah guna pemuda!
Tokh, mawar yang kemarin merekah-megah
kini jadi debu dikacau arah.
Jadi apa manusia?
matari bosan juga kurasa.
Pulang sayang,
sebelum tanah keburu hitam
tempat bersilang segala pitam.
Jadilah mengerti!
Itu tangan dan kaki,
suara dan segala bunyi,
bukanlah besi
yang dengan senanghati
bisa kautusukkan ke pantat babi.
Kira kaukah
selongsong peluru?
Tembus barisan berpistol-bersepatu,
dengan modal kertas kumal di saku
dan sebuah hati yang teramat lugu?
Sayang, kulihat kaki ibumu hampir lumpuh
terus terisak, terus bersimpuh
airmatanya membasahi bibir sumur yang berlumut,
memohon pada Tuhan dan terus berlutut
semoga jangan datang maut,
menekan-nekan jidatmu ke ketiak rumput.
Sayang, perlu kau menumpah darah?
'ikuti jejak gempita semua arah,
jadi boneka:
diseret-seret gairah sejarah?
matari membentang caya! (teriakmu siang ini)
Apalah guna pemuda!
Tokh, mawar yang kemarin merekah-megah
kini jadi debu dikacau arah.
Jadi apa manusia?
matari bosan juga kurasa.
Pulang sayang,
sebelum tanah keburu hitam
tempat bersilang segala pitam.
Jadilah mengerti!
Itu tangan dan kaki,
suara dan segala bunyi,
bukanlah besi
yang dengan senanghati
bisa kautusukkan ke pantat babi.
Kira kaukah
selongsong peluru?
Tembus barisan berpistol-bersepatu,
dengan modal kertas kumal di saku
dan sebuah hati yang teramat lugu?
Sayang, kulihat kaki ibumu hampir lumpuh
terus terisak, terus bersimpuh
airmatanya membasahi bibir sumur yang berlumut,
memohon pada Tuhan dan terus berlutut
semoga jangan datang maut,
menekan-nekan jidatmu ke ketiak rumput.
Sayang, perlu kau menumpah darah?
'ikuti jejak gempita semua arah,
jadi boneka:
diseret-seret gairah sejarah?
Sunday, 7 October 2012
Autis, apatis, egois
Aku ingin menjadi autis
Hidup dalam duniaku sendiri
Hanya sendiri
Atau menjadi apatis
Tak mau tahu apa kata dunia
Tak peduli kamu, dia, dan mereka
Aku memang egois
Mau menang sendiri
Tak ingin berbagi
Biar saja begini
Biar saja terjadi
Merpati,ilalang,hujan...
Semua bergelayutan...
Entah apa yang aku pikirkan...
Rebahlah dalam ke-autisan
Tidurlah bermimpi tentang ke-egoisan
Dan jangan bangun sebelum segala ke-apatisan mu mati.
Hidup dalam duniaku sendiri
Hanya sendiri
Atau menjadi apatis
Tak mau tahu apa kata dunia
Tak peduli kamu, dia, dan mereka
Aku memang egois
Mau menang sendiri
Tak ingin berbagi
Biar saja begini
Biar saja terjadi
Merpati,ilalang,hujan...
Semua bergelayutan...
Entah apa yang aku pikirkan...
Rebahlah dalam ke-autisan
Tidurlah bermimpi tentang ke-egoisan
Dan jangan bangun sebelum segala ke-apatisan mu mati.